Apakah mereka lebih khusyu' daripada Abu Bakar dan Umar?

Pada suatu hari Amir terlambat pulang ke rumah lalu ayahnya bertanya: Ke mana saja kamu, wahai Amir? Ia menjawab: Saya melihat suatu kaum yang tidak ada yang lebih baik daripada mereka, mereka berdzikir kepada Allah Ta'ala, salah satu di antara mereka gemetar kemudian pingsan karena takutnya kepada Allah! Apakah mereka lebih khusyu dari Abu Bakar dan Umar? 
Seorang tabi'in yang agung bernama Amir bin Abdillah bin Zubair belajar dari ayahnya Abdullah bin Zubair ra.
Pada suatu hari Amir terlambat pulang ke rumah lalu ayahnya bertanya: Ke mana saja kamu, wahai Amir? Ia menjawab: Saya melihat suatu kaum yang tidak ada yang lebih baik daripada mereka, mereka berdzikir kepada Allah Ta'ala, salah satu di antara mereka gemetar kemudian pingsan karena takutnya kepada Allah!
Lalu ayahnya berkata: Janganlah kamu duduk bersama mereka lagi, wahai Amir! Kemudian Amir bertanya: Mengapa? Bukankah mereka adalah suatu kaum yang takut kepada Allah? Bapaknya menjawab: Sungguh saya telah melihat bagaimana Rasulullah saw membaca Al-Quran, dan aku melihat pula Abu Bakar 'dan Umar ra membaca Al-Qur'an, namun tidak sampai mengalami sebagaimana orang-orang yang kamu ceritakan itu, lalu apakah kau kira mereka lebih khusyu' dari pada Abu Bakar dan Umar?
Penulis mendapatkan kisah tersebut dalam biografi tabi'in yang zuhud dan ahli ibadah ini. Beliau belajar kepada ayahnya, seorang sahabat yang agung dan putra sahabat yang agung pula, yakni Abdulullah bin Zubair bin Awwam maka petunjuknya sesuai dengan petunjuk Nabi saw. Dalam riwayat ini terdapat solusi dari problem berupa ghuluw (melampaui batas) dan sikap ektsrim yang banyak menimpa kaum muda yang tengah bersemangat, sekalipun dengan niat yang baik dan menginginkan kebaikan, akan tetapi mereka salah dalam menempuh cara. Sehingga mereka tidak mendapatkan tujuan yang mereka kehendaki.
Abdullah bin Zubair bertanya kepada anaknya Amir atas keterlambatan pulang kerumah itu adalah merupakan hak baginya dan bahkan kewajiban bapak terhadap anaknya. Bukan berarti beliau merampas kemerdekaan anak atau mengekangnya, bahkan hal itu merupakan wujud penjagaan dan perhatian seorang ayah dan bagian dari tarbiyah yang baik.
Sungguh buruk sekali pendidikan yang mengklaim memberikan kemerdekaan kepada anak sepenuhnya tanpa adanya pengawasan dari orang tua terhadap prilaku mereka. Itu adalah kemerdekaan semu dan kebebasan yang merusak. Menganggap anak memiliki kedewasaan seperti dirinya, hingga mereka terjerat pergaulan dengan anak-anak berandalan, sementara mereka masih pendek nalarnya dan masih sempit pengalamannya, sehingga begitu mudah dijerumuskan dan dipengaruhi oleh teman-teman yang buruk, sementara bapaknya hanya menyaksikan dan bersikap netral tanpa komentar. Dengan dalih memberikan kemerdekaan bagi anaknya dan tidak ikut campur tangan dalam urusannya.
Inilah faedah pertama dari riwayat ini, yakni memberikan gambaran tentang konsep pendidikan Islam yang lurus semenjak awal tarikh hijriyah. (Amir tidak mempersoalkan pertanyaan ayahnya yakni tidak menyanggah ayahnya mengapa ia menanyakan urusannya), namun beliau memberikan alasan yang menyebabkan keterlambatannya. Beliau memberitahukan tentang keadaan kaum yang beliau lihat, mereka berdzikir kepada Allah dengan khusyu' dan takut hingga salah satu di antara mereka gemetaran lalu pingsan karena takut kepada Allah.
Akan tetapi Abdullah bin Zubair tidak simpati dengan kondisi orang yang diceritakan tersebut, tidak suka dengan apa yang mereka lakukan, tidak terperdaya oleh sikap lahir mereka. Bahkan dia meminta agar anaknya tidak bergaul dengan orang yang dikatakan khusyu tersebut, dan agar anaknya menjauhi mereka. Larangan tersebut membuat Amir keheranan mengapa ayahnya melarang berkumpul dengan kaum yang pingsan saking takutnya kepada Allah maka ia bertanya pada bapaknya: Mengapa, wahai ayah, padahal mereka adalah kaum yang takut kepada Rabb mereka?
Seharusnya ayahnya menganjurkan dia untuk bergaul dengan mereka dan memberikan motivasi untuk mengikuti mereka. Mengapa dia melarangnya padahal rasa takut itu telah bersemayam di hati dan menguasai perasaan mereka? (begitulah pikir Amir ketika itu)
Lalu muncullah jawaban dari sahabat yang agung tersebut, menjelaskan manhaj ittiba' dan jauh dari bid'ah, serta menerangkan tidak adanya kebaikan dalam ghuluw (berlebih-lebihan) atau melampaui dari apa' yang telah dikerjakan oleh Nabi dan para shahabatnya. Lalu beliau katakan bahwa beliau melihat Nabi ketika membaca Al-Qur'an (Al-Qur'an adalah sebaik-baik dzikir), begitupula halnya dengan kedua sahabat beliau yakni Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu 'Anhuma, namun tidaklah mengalami kondisi sebagaimana kondisi orang yang dilihat anaknya yakni orang yang pingsan karena khusyu'nya. Apakah mereka lebih khusyu' kepada Allah dari Rasul-Nya yang mulia padahal beliau telah menyebutkan nikmat yang Allah karuniakan kepada beliau dengan sabdanya:
Sesungguhnya orang yang paling bertakwa kepada Allah dan yang paling takut kepada-Nya adalah aku.
Dan apakah mereka lebih khusyu' pula daripada dua sahabat yang mulia, yakni Abu Bakar dan Umar? Padahal Abu Bakar 'lebih bagus keimanannya daripada iman seluruh umat ini, sebagaimana pernah disebutkan dalam sebuah hadits. Sedangkan Umar Syetan lari darinya sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah saw.
Jika demikian, mereka adalah orang-orang yang mengada-ada dan mutakallifun (memperberat diri) atau dari ahli meditasi dan filsafat yang jauh dari petunjuk salaf yang berada di tengah-tengah dan lurus. Sehingga tidak ada baiknya berteman dan meneladani mereka maka camkanlah nasihat ini wahai para pemuda.
Diambil dari Haakadza..Tahaddatsas Salaf edisi bahasa Indonesia Potret Kehidupan Para Salaf karya Dr. Musthafa Abdul Wahid. Penerbit : At-Tibyan 
[...]

Apa itu wahabi

Apa itu wahabi ?
Sebenarnya, Al-Wahabiyah merupakan firqah sempalan Ibadhiyah khawarij yang timbul pada abad ke 2 (dua) Hijriyah (jauh sebelum masa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab), yaitu sebutan Wahabi nisbat kepada tokoh sentralnya Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum yang wafat tahun 211 H. Wahabi merupakan kelompok yang sangat ekstrim kepada ahli sunnah, sangat membenci syiah dan sangat jauh dari Islam.

Untuk menciptakan permusuhan di tengah Umat Islam, kaum Imperialisme dan kaum munafikun memancing di air keruh dengan menyematkan baju lama (Wahabi) dengan berbagai atribut penyimpangan dan kesesatannya untuk menghantam dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab atau setiap dakwah mana saja yang mengajak untuk memurnikan Islam. Karena dakwah beliau sanggup merontokkan kebatilan, menghancurkan angan-angan kaum durjana dan melumatkan tahta agen-agen asing, maka dakwah beliau dianggap sebagai penghalang yang mengancam eksistensi mereka di negeri-negeri Islam.
Contohnya: Inggris mengulirkan isue wahabi di India, Prancis menggulirkan isu wahabi di Afrika Utara, bahkan Mesir menuduh semua kelompok yang menegakkan dakwah tauhid dengan sebutan Wahabi, Italia juga mengipaskan tuduhan wahabi di Libia, dan Belanda di Indonesia, bahkan menuduh Imam Bonjol yang mengobarkan perang Padri sebagai kelompok yang beraliran Wahabi. Semua itu, mereka lakukan karena mereka sangat ketakutan terhadap pengaruh murid-murid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang mengobarkan jihad melawan Imperialisme di masing-masing negeri Islam.
Tuduhan buruk yang mereka lancarkan kepada dakwah beliau hanya didasari tiga faktor:
1. Tuduhan itu berasal dari para tokoh agama yang memutarbalikkan kebenaran, yang hak dikatakan bathil dan sebaliknya, keyakinan mereka bahwa mendirikan bangunan dan masjid di atas kuburan, berdoa dan meminta bantuan kepada mayit dan semisalnya termasuk bagian dari ajaran Islam. Dan barangsiapa yang mengingkarinya dianggap membenci orang-orang shalih dan para wali.
2. Mereka berasal dari kalangan ilmuwan namun tidak mengetahui secara benar tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan dakwahnya, bahkan mereka hanya mendengar tentang beliau dari pihak yang sentimen dan tidak senang Islam kembali jaya, sehingga mereka mencela beliau dan dakwahnya sehingga memberinya sebutan Wahabi.
3. Ada sebagian dari mereka takut kehilangan posisi dan popularitas karena dakwah tauhid masuk wilayah mereka, yang akhirnya menumbangkan proyek raksasa yang mereka bangun siang malam.
Dan barangsiapa ingin mengetahui secara utuh tentang pemikiran dan ajaran Syaikh Muhammad (Abdul Wahab) maka hendaklah membaca kitab-kitab beliau seperti Kitab Tauhid, Kasyfu as-Syubhat, Usul ats-Tsalatsah dan Rasail beliau yang sudah banyak beredar baik berbahasa arab atau Indonesia.
Penulis: Ustadz Zainal Abidin
[...]

Pernyataan Imam Syafi’i Rahimahullâh Dalam Masalah ‘Aqidah

(Mabhats: Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII)

Mengenal aqidah seorang imam besar Ahlus Sunnah merupakan perkara penting. Khususnya, bila Imam tersebut memiliki pengikut dan madzhab yang mendunia. Karenanya, mengenal pernyataan Imam Syafi’i rahimahullâh yang madzhabnya menjadi madzhab kebanyakan kaum muslimin di negeri ini, menjadi sangat penting, agar kita semua dapat melihat secara nyata aqidah Imam asy-Syafi’i rahimahullâh, dan dapat dijadikan pelajaran bagi kaum muslimin di Indonesia.
Untuk itu, kami sampaikan disini beberapa pernyataan beliau seputar permasalahan aqidah, yang diambil dari kitab "Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbât al-Aqidah", karya Dr. Muhammad bin Abdil-Wahab al-’Aqîl.

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
DALAM MASALAH KUBUR
1. Hukum Meratakan Kuburan.


Imam Syafi’i rahimahullâh mengatakan:
“Saya suka kalau tanah kuburan itu tidak ditinggikan dari selainnya dan tidak mengambil padanya dari tanah yang lain. Tidak boleh, apabila ditambah tanah dari lainnya menjadi tinggi sekali, dan tidak mengapa jika ditambah sedikit saja. Saya hanya menyukai ditinggikan (kuburan) di atas tanah satu jengkal atau sekitar itu dari permukaan tanah”.[1] (1/257)


2. Hukum Membangun Kuburan dan Menemboknya.


“Saya suka bila (kuburan) tidak dibangun dan ditembok, karena itu menyerupai penghiasan dan kesombongan, dan kematian bukan tempat bagi salah satu dari keduanya. Dan saya tidak melihat kuburan para sahabat Muhajirin dan Anshar ditembok.
Seorang perawi menyatakan dari Thawus, bahwa Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam telah melarang kuburan dibangun atau ditembok.
Saya sendiri melihat sebagian penguasa di Makkah menghancurkan semua bangunan di atasnya (kuburan), dan saya tidak melihat para ahli fikih mencela hal tersebut."[2] (1/258)


3. Hukum Membangun Masjid di Atas Kuburan.


“Saya melarang dibangun masjid di atas kuburan dan disejajarkan atau dipergunakan untuk shalat di atasnya dalam keadaan tidak rata atau shalat menghadap kuburan. Apabila ia shalat menghadap kuburan, maka masih sah namun telah berbuat dosa”.[3] (1/261)

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
DALAM MASALAH FITNAH KUBUR DAN KENIKMATANNYA
"Sesungguhnya Adzab kubur itu benar dan pertanyaan malaikat terhadap ahli kubur adalah benar".[4] (2/420)

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
DALAM MASALAH KEBANGKITAN, HISAB, SYURGA DAN NERAKA
"Hari kebangkitan adalah benar, hisab adalah benar, syurga dan neraka serta selainnya yang sudah dijelaskan dalam sunnah-sunnah (hadits-hadits), lalu ada pada lisan-lisan para ulama dan pengikut mereka di negara-negara muslimin adalah benar".[5] (2/426)

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
DALAM MASALAH BERSUMPAH DENGAN NAMA SELAIN ALLÂH TA'ALA
"Semua orang yang bersumpah dengan selain Allâh, maka saya melarangnya dan mengkhawatirkan pelakunya, karena sumpahnya itu adalah kemaksiatan. Saya juga membenci bersumpah dengan nama Allâh dalam semua keadaan, kecuali hal itu adalah ketaatan kepada Allâh, seperti berbai’at untuk berjihad dan yang serupa dengannya".[6] (1/271)

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
TENTANG SYAFA’AT
"Beliau (Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam ) adalah manusia terbaik yang dipilih Allâh untuk wahyunya lagi terpilih sebagai Rasul-Nya dan yang diutamakan atas seluruh makhluk dengan membuka rahmat-Nya, penutup kenabian, dan lebih menyeluruh dari ajaran para rasul sebelumnya. Beliau ditinggikan namanya di dunia dan menjadi pemberi syafa’at, yang syafa’atnya dikabulkan di akhirat".[7] (1/291)

Beliau juga menyatakan tentang syarat diterimanya syafa’at:
"Semalam saya mengambil faidah (istimbâth) dari dua ayat yang membuat saya tidak tertarik kepada dunia dan yang sebelumnya. Yaitu, firman Allâh : … Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada keizinan-Nya …. (Qs. Yunus/10 : 3). Dan dalam kitabullah, hal ini banyak : … Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allâh tanpa izin-Nya?.... (Qs. al-Baqarah/2 : 256).
Syafa’at tertolak kecuali dengan izin Allâh."[8] (1/291)

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
TENTANG SIFAT ISTIWA’ BAGI ALLÂH
"Pendapatku tentang sunnah (aqidah) yang saya berada di atasnya, dan saya lihat dimiliki oleh orang-orang yang saya lihat, seperti Sufyân, Mâlik dan selainnya, ialah berikrar dengan syahadatain (Lâ Ilâha illallâh wa Anna Muhammadar-Rasûlullâh), (beriman) bahwa Allâh berada di atas ‘Arsy-Nya di atas langit, mendekat kepada makhluk-Nya bagaimana Dia suka, dan turun ke langit dunia bagaimana Dia suka …" (2/354-355)

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
TENTANG SIFAT NUZUL (TURUN) BAGI ALLÂH
"Allâh turun setiap malam ke langit dunia dengan dasar berita dari Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam." (2/358)
"Sesungguhnya Allâh berada di atas ‘Arsy-Nya di atas langit-Nya, mendekat dari makhluk-Nya bagaimana Dia suka, dan Allâh Ta'ala turun ke langit dunia bagaimana Dia suka." (2/358)

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
TENTANG SIFAT TANGAN BAGI ALLÂH
"Sesungguhnya Allâh memiliki dua tangan dengan dasar firman Allâh, (yang artinya):
Orang-orang Yahudi berkata: ”Tangan Allâh terbelenggu”,
sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu
dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu.
(Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allâh terbuka;
Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.
Dan Al-Qur‘an yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu
sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran
bagi kebanyakan di antara mereka.
Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat.
Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allâh memadamkannya
dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi
dan Allâh tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.
(Qs. al-Maidah/5 : 64)
Dan sungguh Dia juga memiliki tangan kanan dengan dasar firman Allâh, (yang artinya):
Dan mereka tidak mengagungkan Allâh dengan pengagungan yang semestinya,
pada hal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat,
dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.
Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.
(Qs. az-Zumar/39 : 67)

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
TENTANG MELIHAT ALLÂH DI AKHIRAT
Dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, beliau berkata:
“Suatu hari saya berada di dekat asy-Syafi’i dan datang surat dari daerah ash-Sha’id. Mereka menanyakan kepada beliau tentang firman Allâh, (yang artinya):
Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu
benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.
(Qs. Muthaffifin/83 ayat 15)
lalu beliau menulis (jawaban) berisi (pernyataan), ketika Allâh menghalangi satu kaum dengan sebab kemurkaan, maka menunjukkan bahwa orang-orang melihat-Nya dengan sebab keridhaan”.
Ar-Rabi' bertanya: “Apakah engkau beragama dengan hal ini, wahai tuanku?”
Lalu beliau menjawab: “Demi Allâh! Seandainya Muhammad bin Idris tidak meyakini bahwa ia melihat Rabb-Nya di akhirat, tentu ia tidak menyembah-Nya di dunia”. (2/386)

Dari Ibnu Haram al-Qurasyi, beliau berkata:
“Saya mendengar asy-Syafi’i mengatakan tentang firman Allâh Ta'ala :
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu
benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka."
(Qs. Muthaffifin/83 : 15)
Ini adalah dalil bahwa para wali-Nya melihat-Nya pada hari Kiamat".[9] (2/387)

SIKAP IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
TERHADAP SYI’AH
Dari Yunus bin Abdila’la, beliau berkata:
"Saya telah mendengar asy-Syafi’i, apabila disebut nama Syi’ah Rafidhah, maka ia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: “Kelompok terjelek”.[10] (2/486)
"Saya belum melihat seorang pun yang paling banyak bersaksi palsu dari Syi’ah Rafidhah".[11] (2/486)
Asy-Syafi’i berkata tentang seorang Syi’ah Rafidhah yang ikut berperang:
“Tidak diberi sedikit pun dari harta rampasan perang, karena Allâh Ta'ala menyampaikan ayat fa’i (harta rampasan perang), kemudian menyatakan: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, …”. (Qs. al-Hasyr/59 : 10) maka barang siapa yang tidak menyatakan demikian, tentunya tidak berhak (mendapatkan bagian fa’i).[12] (2/487)

SIKAP IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
TERHADAP SHUFIYAH (TASHAWWUF)
"Seandainya seorang menjadi sufi (bertasawwuf) di pagi hari, niscaya sebelum datang waktu Zhuhur, engkau tidak dapati ia, kecuali menjadi orang bodoh".[13] (2/503)
"Saya sama sekali tidak mendapatkan seorang sufi berakal, kecuali Muslim al-Khawash".[14] (2/503)
"Asas tasawwuf adalah kemalasan."[15] (2/504)
"Tidaklah seorang sufi menjadi sufi, hingga memiliki empat sifat: malas, suka makan, sering merasa sial, dan banyak berbuat sia-sia".[16] (2/504)

Demikian, sebagian pernyataan dan sikap beliau rahimahullâh, agar diketahui bagaimana seharusnya mengikuti beliau dengan benar. Semoga bermanfaat.

[1] Syarah Muslim 2/666
[2] al Umm 1/277 dengan sedikit perubahan
[3] al Umm 1/278
[4] al I’tiqâd karya Imam al Baihaqiy
[5] Manâqibus Syâfi’i, karya Imam al baihaqiy 1/415
[6] al-Umm 7/61
[7] ar-Risâlah 12-13
[8] Ahkâmul Qur’ân 2/180-181
[9] al Manâqib dan al I’tiqâd 1/420
[10] al Manâqib, karya al Baihaqiy 1/468
[11] Adâbus Syâfi’i, hlm. 187, al Manaqib karya al baihaqiy 1/468 dan Sunan al Kubrâ 10/208
[12] at Thabaqât 2/117
[13] al Manâqib lil Baihaqiy 2/207
[14] al Manâqib lil Baihaqiy 2/207
[15] al Hilyah 9/136-137
[16] Manaqib lil Baihaqiy 2/207
[...]

Ahlussunnah Mengimani Bahwa Allah Ta'ala Diatas Arsy-Nya

Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed

Ayat-ayat al-Qur'an yang menyatakan bahwa Allah Maha tinggi di atas ‘Arsy-Nya sangat banyak. Diantaranya firman Allah:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ... ]الأعراف: 54؛ يونس: 3[
Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristiwa’ di atas 'Arsy… (al-A’raaf: 54 dan Yunus: 3)

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ... ]الرعد: 2[
Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia beristiwa’ di atas 'Arsy …. (Ar-Ra'd: 2)

الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ...]الفرقان: 59[
Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa’ di atas Arsy…(al-Furqan: 59)

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى. ]طه: 5[
(Yaitu) Ar-Rahman yang beristiwa’ di atas ‘Arsy. (Thaha: 5)

...إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ...]فاطر: 10[
..Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-Nya… (Faathir: 10)

يُدَبِّرُ اْلأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى اْلأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ. ]السجدة: 5[
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitungan kalian. (as-Sajdah: 5)

Dan masih banyak ayat-ayat lainnya yang menunjukkan Maha Tingginya Allah di atas ‘Arsy-Nya.

Dengan banyaknya ayat-ayat yang muhkamat (jelas dan tidak tersamar) tersebut, maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah sejak para Shahabat, Tabi’in dan para pengikut mereka dari kalangan ahlul hadits mengimani dengan yakin dan mempersaksikan bahwa Allah سبحانه وتعالى tinggi di atas ‘Arsy-Nya. Mereka memahami makna istiwa’ dalam bahasa Arab yaitu “Tinggi, di Atas”. Hanya saja mereka tetap menyatakan bahwa ketinggian Allah سبحانه وتعالى di atas ‘Arsy-Nya tidak sama dengan mahluk-Nya; tidak seperti seorang raja di atas singgasananya dan tidak pula seperti seseorang di atas kendaraannya. Ahlus Sunnah wal Jama’ah menyatakan bahwa tingginya Allah di atas ‘Arsy-Nya sesuai dengan kemuliaan-Nya.

Dan mereka tidak mempermasalahkan bagaimana dan seperti apa istiwa’nya Allah di atas ‘Arsy-Nya. Karena mereka meyakini bahwa dzat Allah tidak sama dengan mahluk-Nya, maka mereka tidak mungkin menerangkan bagaimana istiwa’nya Allah di atas ‘Arsy-Nya. Apalagi tidak ada satu sumberpun dari al-Qur'an dan as-Sunnah yang menerangkan tentang kaifiyahnya.

Seperti kisah yang terjadi pada Imam Malik رحمه الله sebagaimana dinukil oleh imam ash-Shabuni dalam kitabnya Aqidatus Salaf wa ashhabul Hadits. Imam Malik ketika didatangi oleh seseorang di majlisnya, kemudian bertanya: “Ar-Rahman ‘alal ‘Arsy istawa, bagaimana istiwa’-Nya?”. Beliau رحمه الله tertunduk dan marah. Dan tidaklah beliau pernah marah seperti marahnya ketika mendengarkan pertanyaan tersebut. Beliau pun meneteskan butiran-butiran keringat dari dahinya; sementara para hadirin pun terdiam dan tertunduk, semuanya menunggu apa yang akan terjadi dan apa yang akan dikatakan oleh Imam Malik. Beberapa saat kemudian beliau رحمه الله pun tersadar dan mengangkat kepalanya, seraya berkata:

الْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ، وَاْلأِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُولٍ، وَاْلإِيْمَانُ بِِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ، وَإنِّي َلأَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ ضَالاًّ.

“Tentang bagaimananya tidak bisa diketahui dengan akal, tentang makna istiwa’ sudah diketahui; beriman dengannya adalah wajib, dan bertanya tentangnya (tentang kaifiyah) adalah bid’ah. Dan sungguh aku khawatir bahwa engkau adalah orang yang sesat.”
Maka orang itupun diperintahkan untuk diusir dari majlisnya. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 45)

Demikianlah sikap keras para ulama ahlus sunnah terhadap pertanyaan takyif yang tidak mungkin bisa dipikirkan dengan akal, karena masalah dzat Alllah dan sifat-sifat-Nya adalah masalah ghaib yang kita tidak mungkin dapat mengenalinya kecuali melalui al-Qur’an dan sunnah.

Dan para ulama ahlus sunnah pun tidak ada yang berselisih tentang istiwa’nya Allah di atas ‘Arsy-Nya, dan ‘Arsy-Nya di atas langit. Mereka menetapkan hal ini sesuai dengan apa yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan; mengimani, membenarkan Allah azza wa jalla dalam berita-berita yang telah disampaikan-Nya dan mengucapkan sesuai dengan apa yang telah Allah سبحانه وتعالى ucapkan tentang istiwa’Nya di atas ‘ArsyNya. Mereka melangsungkannya atas dhahir (ayat-ayat)nya dan menyerahkan tentang kaifiyahnya kepada Allah. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal.44)

Ahlus sunnah tidak pula berani menarik makna istiwa kepada makna-makna lain yang sama sekali tidak berkaitan dengan lafadznya, seperti apa yang dilakukan oleh ahlul bid’ah yang menarik makna “istiwa’” kepada “istaula”. Kalimat ini bukan tafsir, bukan pula makna istiwa’, karena sama sekali tidak berkaitan dengan lafadz maupun maknanya. Perbuatan ini termasuk tahrif yaitu mengganti kalimat al-Qur’an dengan kalimat yang lain yang tidak saling berhubungan, baik secara lafadz maupun secara makna.

Pantas kalau dikatakan oleh para ulama, bahwa apa yang dilakukan oleh mereka sama persis seperti yang telah dilakukan oleh kaum Yahudi terhadap kitab mereka. Mereka mengganti kalimat 'hithah' menjadi 'hinthah'.

Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى kisahkan tentang tahrif mereka ini dalam ayat-Nya:

... وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ (58) فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلاً غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ. ]البقرة: 58-59[

…dan katakanlah: Hiththah ("Bebaskanlah kami dari dosa"), niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahan kalian, dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik". Maka orang-orang yang zalim mengganti kalimat yang diperintahkan kepada mereka dengan kalimat lain. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu kehinaan dari langit, karena mereka berbuat fasik. (al-Baqarah: 58-59)

Dijelaskan dalam tafsirnya, bahwa kaum Yahudi mengganti kalimat Hiththah menjadi Hinthah (gandum) untuk memperolok-olok perintah Nabinya.

Seperti inilah tahrif yang dilakukan oleh para penolak sifat terhadap kalimat “istiwa’” yang bermakna “Tinggi di atas” dengan kalimat “istaula” yang bermakna “menguasai” untuk menolak sifat Tinggi-nya Allah dan mendukung keyakinan batil mereka bahwa Allah menyatu dengan hamba-Nya di alam ini. Jika kaum Yahudi menambah huruf ‘nun’ pada Hiththah, sedangkan ahlul bid’ah menambah huruf ‘lam’ pada Istawa’.

Berkata Abu Utsman Ismail bin Abdurrahman Ash-Shabuni: “Ashhabul hadits meyakini dan mempersaksikan bahwa Allah سبحانه وتعالى di atas tujuh lapis langit, di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana Ia sebutkan dalam kitab-Nya”. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal.44)

Berkata Abdullah ibnul Mubarak; “Kami mengenali Rabb kami di atas tujuh lapis langit, tinggi di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari mahluk-Nya. Dan kami tidak berkata seperti ucapan Jahmiyah bahwa Dia ada di sini (sambil menunjuk ke bumi)”. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 46-47)

Berkata Muhammad bin Ishak ibnu Huzaimah: “Barangsiapa yang tidak mengatakan bahwa Allah azza wa jalla di atas ‘Arsy-Nya, tinggi di atas tujuh lapis langit, maka dia kafir kepada Rabb-nya; halal darahnya, diminta taubat kalau mau bertaubat; kalau tidak mau bertaubat, maka dipenggal lehernya, dibuang jasadnya ke tempat-tempat pembuangan sampah agar tidak mengganggu kaum muslimin dan para mu’ahad dengan busuknya bau bangkai mereka. Hartanya menjadi fa’i (pampasan perang untuk baitul maal). Tidak boleh mewarisinya seorang pun dari kaum muslimin, karena seorang muslim tidak mewarisi dari seorang kafir sebagaimana ucapan Nabi صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid رضي الله عنه:

لاَ يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلاَ يَرِثُ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ. (متفق عليه(

Orang muslim tidak mewarisi dari orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi dari orang muslim. (HR. Bukhari Muslim) (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 47)

Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah berdalil atas tidak bolehnya memerdekakan budak yang kafir untuk kaffarah dengan riwayat dari Mu’awiyah bin Hakam, ketika ia ingin memerdekakan budak perempuan hitam sebagai kaffarah. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun mengujinya dengan bertanya kepadanya: “Di mana Allah?” Dia menjawab: “Di langit”. Kemudian beliau صلى الله عليه وسلم bertanya lagi: “Siapa Aku?” Maka budak itu menjawab dengan mengisyaratkan dengan jarinya kepada beliau dan ke langit. Yakni engkau adalah utusan yang di langit. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

اِعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ.

Merdekakanlah dia, karena dia adalah seorang mukminah. (HSR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Huzaimah).

Dengan riwayat ini Rasulullah صلى الله عليه وسلمmenyatakan keislaman budak tersebut dengan pernyataannya bahwa Allah Maha Tinggi di atas langit. Dan Imam Syafi’i berdalil dengan hadits ini karena beliau meyakini Allah Maha Tinggi di atas ‘Arsy-Nya, dan bahwasanya seseorang yang mengikrarkan yang demikian adalah seorang mukmin.

Tidak mungkin seorang seperti imam Syafi’i رحمه الله, tidak sependapat dengan hadits yang telah diriwayatkannya. Sebagaimana telah dikisahkan dari beliau ketika pada suatu hari beliau meriwayatkan hadits, ada seorang yang bertanya kepadanya: “Wahai Abu Abdillah (kunyah dari Imam Syafi’I –pent.) apakah engkau sependapat dengan hadits ini?” Maka beliau رحمه الله marah seraya berkata:

تَرَانِي فِي بِيْعَةٍ أَوْ كَنِيْسَةٍ؟ تَرَى عَلَيَّ زِيَّ الْكُفَّارِ؟ هُوَ ذَا تَراَنِي فِي مَسْجِدِ الْمُسْلِمِيْنَ، عَلَى زِيِّ الْمُسْلِمِيْنَ، مُسْتَقْبِلَ قِبْلَتِهِمْ، أَرْوِي حَدِيْثًا عَنِ النَّبِيِّ ثُمَّ لاَ اَقُوْلُ بِهِ؟

Apakah engkau melihat aku (keluar) dari biara atau gereja?! Apakah engkau melihat aku memakai pakaian orang kafir?! Bukankah engkau melihat aku berada dalam masjid kaum muslimin, dengan pakaian kaum muslimin, menghadap kiblat kaum muslimin? Apakah apabila aku telah meriwayatkan hadits dari Nabi kemudian aku tidak sependapat dengannya?! (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 47-48)

Ini adalah bukti kalau imam Syafi’i tentu sependapat dengan hadits ini, bahwa seseorang dikatakan mukmin jika mengikrarkan dan meyakini bahwa Allah Maha Tinggi di Atas tujuh lapis langit di atas ‘Arsy-Nya.
Wallahu a’lam.
[...]

Tentang Arsy dan istiwa'



Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala Rosulillah amma ba’du.
Pada kesempatan ini, sengaja saya pilih judul tersebut agar sama-sama kita bisa kritis terhadap pernyataan “Allah Ta’ala Ada Tanpa Tempat & Tanpa Arah,” benarkah demikian atau sebaliknya? Atas dasar itulah catatan ini dibuat dan sebagai perwujudan terhadap tanggungjawab dakwah sebatas kemampuan dari keterbatasan yang saya miliki.
Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata “Jika kamu diam dalam perkara ini dan saya juga diam maka siapa lagi yang akan menerangkan kepada orang-orang yang bodoh mana hadits yang shahih dan mana yang lemah?!” (Al Kifayah 92, Syarh Ilal At Tirmidzy, dan Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 28/231)
Ada pendapat yang menyatakan bahwa sebelum Allah Ta’ala menciptakan Arsy dan langit, Allah Ta’ala ada tanpa keduanya, dan setelah menciptakan Arsy dan langit, maka Allah Ta’ala tidak berubah menjadi berada pada keduanya, sebab berubah itu merupakan tanda makhluk. Sehingga , dikatakan Allah Ta’ala ada tanpa tempat dan tanpa arah.

Hal tersebut di atas merupakan pokok bahasan pada penjelasan berikutnya tapi terlebih dulu kita perhatikan di mana Allah Ta’ala berfirman:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (Al Maidah : 3)
Al Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya berkata : “Ini merupakan nikmat Allah yang terbesar bagi ummat ini, dimana Allah telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka sehingga mereka tidak butuh kepada selain agama Islam dan tidak butuh kepada Nabi selain Nabi mereka Shalawatullahi wasalaamu alaihi. (Lihat Tafsir Al Quranul Adzim 3/14. Dar Al Ma’rifat).

Inipun dipersaksikan para shahabat seperti Abu Dzar radliyallahu’anhu, menyebutkan : “Rasulullah meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang mengepak-ngepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliau menyebutkan ilmunya pada kami.” Abu Dzar melanjutkan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Tidaklah tertinggal sesuatu yang dapat mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka kecuali telah diterangkan pada kalian.” (HR. Thabrani dalam Mu’jamul Kabir, lihat As Shahihah karya Syaikh Albani rahimahullah 4/416 dan hadits ini memiliki pendukung dari riwayat lain).

Oleh karena itu, Al-Imam Malik rahimahullahu berkata: “Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam agama (bid’ah) yang dia pandang itu adalah baik, sungguh ia telah menuduh bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkhianat terhadap risalah (yang beliau emban). Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya): “Pada hari ini telah Kusempurnakan agama bagi kalian, dan Aku telah lengkapkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (Lihat Al I’tisham oleh Imam Syathibi halaman 37)

1. ‘Arsy (Singgasana) Dan Istawa


Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa ‘Arsy Allah dan Kursi-Nya adalah benar adanya di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maka, Mahatinggi Allah, Raja Yang sebenarnya; tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” [Al-Mu’minuun: 116]

Juga firman-Nya: “Yang mempunyai ‘Arsy, lagi Mahamulia.” [ Al-Buruuj: 15]

‘Arsy yaitu singgasana yang memiliki beberapa tiang yang dipikul oleh para Malaikat. Ia menyerupai kubah bagi alam semesta. ‘Arsy juga merupakan atap seluruh makhluk. [Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyah (hal. 366-367), takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdil Muhsin at-Turki]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Telah diizinkan bagiku untuk bercerita tentang sosok Malaikat dari Malaikat-Malaikat Allah Azza wa Jalla yang bertugas sebagai pemikul ‘Arsy, bahwa jarak antara daun telinganya sampai ke bahunya adalah sejauh perjalanan 700 tahun.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4727), dari Sahabat Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu 'anhu, sanadnya shahih. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 151)]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Perumpamaan langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi seperti cincin yang dilemparkan di padang sahara yang luas, dan keunggulan ‘Arsy atas Kursi seperti keunggulan padang sahara yang luas itu atas cincin tersebut.” [HR. Muhammad bin Abi Syaibah dalam Kitaabul ‘Arsy, dari Sahabat Abu Dzar al-Ghifari Radhiyallahu 'anhu . Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (I/223 no. 109)]

Adapun tentang Kursi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Kursi Allah meliputi langit dan bumi.” [Al-Baqarah : 255]

Dari Sa’id bin Jubair bahwasanya ketika Sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu menafsirkan firman Allah Ta’ala tersebut, beliau berkata:

“Kursi adalah tempat meletakkan kaki Allah, sedangkan ‘Arsy tidak ada yang dapat mengetahui ukuran besarnya melainkan hanya Allah Ta’ala. [Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 12404), al-Hakim (II/282) dan dishahihkannya serta disetujui oleh adz-Dzahabi. Lihat Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyah (hal. 368-369)]

Sedangkan Lafazh istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) dalam bahasa Arab – yang dengannya Allah menurunkan wahyu – berarti (عَلاَ وَارْتَفَعَ), yaitu berada di atas (tinggi/di ketinggian).

Istiwa yang dimaksud disini adalah pada hakikatnya dan bukan majas. Kita bisa memahaminya dengan bahasa Arab yang dengannya wahyu diturunkan. Yang tidak kita ketahui adalah kaifiyyah (cara/bentuk) istiwa’ Allah, karena Dia tidak menjelaskannya. Ketika ditanya tentang ayat 5 Surat Thaha. Rabi’ah bin Abdurrahman dan Malik bin Anas mengatakan: “Istiwa’ itu diketahui, kaifiyyahnya tidak diketahui, dan mengimaninya wajib.” (Al-Iqtishad fil I’tiqad, Al-Ghazali)

2. Sebelum Allah Ta’ala Menciptakan Arsy Dan Langit, Allah Ta’ala Ada Tanpa Arsy Dan Langit

Hal ini berdasarkan Firman Allah Ta’ala :

“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy.” (As-Sajdah: 4)

Firman-Nya yang lain :

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan.” (Yunus: 3)

Hadits riwayat Qatadah bin An-Nu’man rodiallahu’anhu bahwa ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

“Ketika Allah selesai mencipta, Dia berada di atas ‘Arsy singgasana-Nya.” (Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah, dishahihkan oleh Ibnul Qayyim dan Adz-Dzahabi berkata: Para perawinya tsiqah)

Hadits lainnya dari Abu Hurairah Radiallahu’anhu bahwa Nabi shollallahu’alaihiwasallam memegang tangannya (Abu Hurairah) dan berkata:

“Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada diantara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).” (HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, dishahihkan Al-Albani dalam Mukhtasharul ‘Uluw)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menjelaskan tentang hadits di atas, “Dengan demikian Allah bersemayam di atas ‘Arsy setelah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Sebelum itu Dia tidak bersemayam di atas ‘Arsy. [Majmu' Al-Fatawa jilid V halaman 522]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berpendapat bahwa bersemayamnya Allah Ta’ala di atas ‘Arsy-Nya adalah dengan cara bersemayam yang khusus, bukan bersemayam secara umum seperti dilakukan oleh para makhluk. Maka dari itu tidak sah dikatakan istawa ‘ala al-makhluqat (bersemayam di atas makhluk-makhluk) atau di atas langit atau di atas bumi karena Dia terlalu mulia untuk itu. Selanjutnya beliau rahimahullah menjelaskan mengenai ‘Arsy bahwa Allah Ta’ala bersemayam di atas ‘Arsy-Nya. Kata istawa lebih khusus daripada kata ‘uluw yang mutlak, maka dari itu bersemayamnya Allah Ta’ala di atas singgasana-Nya termasuk sifat-sifat-Nya yang fi’liyah berkaitan dengan kehendak-Nya, lain halnya kata ‘uluw, itu termasuk sifat-sifat dzatiyah-Nya, yang tidak lepas darinya. [Fatawa arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.), hlm 85 – 86]

3. Setelah Menciptakan Arsy Dan Langit, Maka Allah Ta’ala Tidak Berubah Menjadi Berada Pada Keduanya, Sebab Berubah Itu Merupakan Tanda Makhluk.

Kaidah ini jelas tidak memiliki pijakan yang kuat, sekalipun itu ada tentunya akan menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salafush Shalih yang Shahih dan Sharih. Sebagaimana yang telah saya sampaikan sebelumnya bahwa setelah Allah Ta’ala mencipta Dia berada di atas ‘Arsy singgasana-Nya, adapun pendapat yang menyatakan sebaliknya jelas itu tertolak.

Allah Ta’ala berfirman :
Mereka (para malaikat yang di langit) takut pada Tuhan mereka yang ada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka.” [QS. An-Nahl: 50]
Ayat di atas juga membantah apabila yang ada di langit itu hanya malaikat. Selain itu, firman Allah Ta’ala lainnya : “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” [QS. Al-Ma’arij: 4]
Dalil lainnya bahwa Allah Ta’ala bersemyam di atas ‘Arsy yang menyatakan Kemahaketinggian (al-’Uluw) Allah dan keberadaan-Nya di atas langit adalah peristiwa Isra’-Mi’raj, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam naik bersama Jibril ‘alaihissalam menembus langit dunia, terus naik sampai langit ke tujuh dan Sidratul Muntaha. Kemudian beliau menghadap Allah Ta’ala untuk menerima perintah sholat. Dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menceritakan:
“(Artinya) Maka aku menemui Tuhanku Yang Maha Suci dan Maha Tinggi sementara Dia berada di atas ‘Arsy-Nya”. [lihat Mukhtasar al-‘Uluw hal. 87]

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :
“(Artrinya)Tidakkah kalian percaya kepadaku, padahal aku ini adalah kepercayaan yang ada di langit (yaitu Allah)”. [HR. Bukhari no.4351 Kitabul Maghazi; Muslim no.1064 Kitabuz Zakat]

Di antara ucapan para Salaf tentang hal ini adalah apa yang dikatakan oleh Imam Al Auza’i Rahimahullah: “Sesungguhnya kami dan para Tabi’in sepakat mengatakan bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy-Nya serta kami mengimani semua hal yang berkaitan dengan sifat Allah sesuai dengan nashnya” (Atsar ini Shahih, dikeluarkan oleh imam Al Baihaqi di dalam kitabnya Al Asma was Shifat hal. 408, dan Imam Adz Dzahabi di dalam kitab Mukhtasar Al ‘Uluw lil Aliyyi Al Ghaffar hal.138).

Dalam hal ini Imam Syafi’I Rahimahullah meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy-Nya. Beliau mengatakan: “…Sesungguhnya Allah Ta’ala berada di atas ‘Arsy-Nya…” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim di dalam kitabnya Adab As Syafi’i wa Manaqibuh hal. 93). Beliau (Imam Syafi’i) juga berkata: “Kekhalifahan Abu Bakar Ash Shiddiq adalah haq (benar), telah diputuskan oleh Allah dari atas langit-Nya.” [Lih. Manhaj al-Imam asy-Syafi’i fi Itsbatil ‘Aqidah hal. 456]

Imam ath-Thahawi (wafat th. 321 H) rahimahullah berkata: “Allah tidak membutuhkan ‘Arsy dan apa yang di bawahnya. Allah menguasai segala sesuatu dan apa yang di atasnya. Dan Dia tidak memberi kemampuan kepada makhluk-Nya untuk mengetahui segala sesuatu.” Kemudian beliau Rahimahullah menjelaskan: “Bahwa Allah mencipta-kan ‘Arsy dan bersemayam di atasnya, bukanlah karena Allah membutuhkan ‘Arsy tetapi Allah mempunyai hikmah tersendiri tentang hal itu.” Lihat Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyah (hal. 372), takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdil Muhsin at-Turki.

Berkata Muhammad bin Ishak ibnu Huzaimah: “Barangsiapa yang tidak mengatakan bahwa Allah azza wa jalla di atas ‘Arsy-Nya, tinggi di atas tujuh lapis langit, maka dia kafir kepada Rabb-nya; halal darahnya, diminta taubat kalau mau bertaubat; kalau tidak mau bertaubat, maka dipenggal lehernyaك dibuang jasadnya ke tempat-tempat pembuangan sampah agar tidak mengganggu kaum muslimin dan para mu’ahad dengan busuknya bau bangkai mereka. Hartanya menjadi fa’i (pampasan perang untuk baitul maal). Tidak boleh mewarisinya seorang pun dari kaum muslimin, karena seorang muslim tidak mewarisi dari seorang kafir sebagaimana ucapan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid : “Orang muslim tidak mewarisi dari orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi dari orang muslim.” [HR.Bukhari Muslim, lihat juga Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 47]
Sebagai penutup mari kita timbang kembali pendapat yang menyatakan Allah Ta’ala ada tanpa tempat dan tanpa arah berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salafush Shalih yang Shahih dan Sharih. Saya minta maaf jika dalam catatan ini terdapat kesalahan, kekurangan, dan kekhilafan. Semoga keselamatan tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarga, shahabat, dan seluruh umat Islam.
[...]

Pernyataan Imam Syafi’i Rahimahullâh Dalam Masalah ‘Aqidah

(Mabhats: Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII)

Mengenal aqidah seorang imam besar Ahlus Sunnah merupakan perkara penting. Khususnya, bila Imam tersebut memiliki pengikut dan madzhab yang mendunia. Karenanya, mengenal pernyataan Imam Syafi’i rahimahullâh yang madzhabnya menjadi madzhab kebanyakan kaum muslimin di negeri ini, menjadi sangat penting, agar kita semua dapat melihat secara nyata aqidah Imam asy-Syafi’i rahimahullâh, dan dapat dijadikan pelajaran bagi kaum muslimin di Indonesia.
Untuk itu, kami sampaikan disini beberapa pernyataan beliau seputar permasalahan aqidah, yang diambil dari kitab "Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbât al-Aqidah", karya Dr. Muhammad bin Abdil-Wahab al-’Aqîl.

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
DALAM MASALAH KUBUR
1. Hukum Meratakan Kuburan.


Imam Syafi’i rahimahullâh mengatakan:
“Saya suka kalau tanah kuburan itu tidak ditinggikan dari selainnya dan tidak mengambil padanya dari tanah yang lain. Tidak boleh, apabila ditambah tanah dari lainnya menjadi tinggi sekali, dan tidak mengapa jika ditambah sedikit saja. Saya hanya menyukai ditinggikan (kuburan) di atas tanah satu jengkal atau sekitar itu dari permukaan tanah”.[1] (1/257)


2. Hukum Membangun Kuburan dan Menemboknya.


“Saya suka bila (kuburan) tidak dibangun dan ditembok, karena itu menyerupai penghiasan dan kesombongan, dan kematian bukan tempat bagi salah satu dari keduanya. Dan saya tidak melihat kuburan para sahabat Muhajirin dan Anshar ditembok.
Seorang perawi menyatakan dari Thawus, bahwa Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam telah melarang kuburan dibangun atau ditembok.
Saya sendiri melihat sebagian penguasa di Makkah menghancurkan semua bangunan di atasnya (kuburan), dan saya tidak melihat para ahli fikih mencela hal tersebut."[2] (1/258)


3. Hukum Membangun Masjid di Atas Kuburan.


“Saya melarang dibangun masjid di atas kuburan dan disejajarkan atau dipergunakan untuk shalat di atasnya dalam keadaan tidak rata atau shalat menghadap kuburan. Apabila ia shalat menghadap kuburan, maka masih sah namun telah berbuat dosa”.[3] (1/261)

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
DALAM MASALAH FITNAH KUBUR DAN KENIKMATANNYA
"Sesungguhnya Adzab kubur itu benar dan pertanyaan malaikat terhadap ahli kubur adalah benar".[4] (2/420)

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
DALAM MASALAH KEBANGKITAN, HISAB, SYURGA DAN NERAKA
"Hari kebangkitan adalah benar, hisab adalah benar, syurga dan neraka serta selainnya yang sudah dijelaskan dalam sunnah-sunnah (hadits-hadits), lalu ada pada lisan-lisan para ulama dan pengikut mereka di negara-negara muslimin adalah benar".[5] (2/426)

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
DALAM MASALAH BERSUMPAH DENGAN NAMA SELAIN ALLÂH TA'ALA
"Semua orang yang bersumpah dengan selain Allâh, maka saya melarangnya dan mengkhawatirkan pelakunya, karena sumpahnya itu adalah kemaksiatan. Saya juga membenci bersumpah dengan nama Allâh dalam semua keadaan, kecuali hal itu adalah ketaatan kepada Allâh, seperti berbai’at untuk berjihad dan yang serupa dengannya".[6] (1/271)

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
TENTANG SYAFA’AT
"Beliau (Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam ) adalah manusia terbaik yang dipilih Allâh untuk wahyunya lagi terpilih sebagai Rasul-Nya dan yang diutamakan atas seluruh makhluk dengan membuka rahmat-Nya, penutup kenabian, dan lebih menyeluruh dari ajaran para rasul sebelumnya. Beliau ditinggikan namanya di dunia dan menjadi pemberi syafa’at, yang syafa’atnya dikabulkan di akhirat".[7] (1/291)

Beliau juga menyatakan tentang syarat diterimanya syafa’at:
"Semalam saya mengambil faidah (istimbâth) dari dua ayat yang membuat saya tidak tertarik kepada dunia dan yang sebelumnya. Yaitu, firman Allâh : … Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada keizinan-Nya …. (Qs. Yunus/10 : 3). Dan dalam kitabullah, hal ini banyak : … Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allâh tanpa izin-Nya?.... (Qs. al-Baqarah/2 : 256).
Syafa’at tertolak kecuali dengan izin Allâh."[8] (1/291)

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
TENTANG SIFAT ISTIWA’ BAGI ALLÂH
"Pendapatku tentang sunnah (aqidah) yang saya berada di atasnya, dan saya lihat dimiliki oleh orang-orang yang saya lihat, seperti Sufyân, Mâlik dan selainnya, ialah berikrar dengan syahadatain (Lâ Ilâha illallâh wa Anna Muhammadar-Rasûlullâh), (beriman) bahwa Allâh berada di atas ‘Arsy-Nya di atas langit, mendekat kepada makhluk-Nya bagaimana Dia suka, dan turun ke langit dunia bagaimana Dia suka …" (2/354-355)

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
TENTANG SIFAT NUZUL (TURUN) BAGI ALLÂH
"Allâh turun setiap malam ke langit dunia dengan dasar berita dari Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam." (2/358)
"Sesungguhnya Allâh berada di atas ‘Arsy-Nya di atas langit-Nya, mendekat dari makhluk-Nya bagaimana Dia suka, dan Allâh Ta'ala turun ke langit dunia bagaimana Dia suka." (2/358)

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
TENTANG SIFAT TANGAN BAGI ALLÂH
"Sesungguhnya Allâh memiliki dua tangan dengan dasar firman Allâh, (yang artinya):
Orang-orang Yahudi berkata: ”Tangan Allâh terbelenggu”,
sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu
dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu.
(Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allâh terbuka;
Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.
Dan Al-Qur‘an yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu
sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran
bagi kebanyakan di antara mereka.
Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat.
Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allâh memadamkannya
dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi
dan Allâh tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.
(Qs. al-Maidah/5 : 64)
Dan sungguh Dia juga memiliki tangan kanan dengan dasar firman Allâh, (yang artinya):
Dan mereka tidak mengagungkan Allâh dengan pengagungan yang semestinya,
pada hal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat,
dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.
Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.
(Qs. az-Zumar/39 : 67)

PERNYATAAN IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
TENTANG MELIHAT ALLÂH DI AKHIRAT
Dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, beliau berkata:
“Suatu hari saya berada di dekat asy-Syafi’i dan datang surat dari daerah ash-Sha’id. Mereka menanyakan kepada beliau tentang firman Allâh, (yang artinya):
Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu
benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.
(Qs. Muthaffifin/83 ayat 15)
lalu beliau menulis (jawaban) berisi (pernyataan), ketika Allâh menghalangi satu kaum dengan sebab kemurkaan, maka menunjukkan bahwa orang-orang melihat-Nya dengan sebab keridhaan”.
Ar-Rabi' bertanya: “Apakah engkau beragama dengan hal ini, wahai tuanku?”
Lalu beliau menjawab: “Demi Allâh! Seandainya Muhammad bin Idris tidak meyakini bahwa ia melihat Rabb-Nya di akhirat, tentu ia tidak menyembah-Nya di dunia”. (2/386)

Dari Ibnu Haram al-Qurasyi, beliau berkata:
“Saya mendengar asy-Syafi’i mengatakan tentang firman Allâh Ta'ala :
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu
benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka."
(Qs. Muthaffifin/83 : 15)
Ini adalah dalil bahwa para wali-Nya melihat-Nya pada hari Kiamat".[9] (2/387)

SIKAP IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
TERHADAP SYI’AH
Dari Yunus bin Abdila’la, beliau berkata:
"Saya telah mendengar asy-Syafi’i, apabila disebut nama Syi’ah Rafidhah, maka ia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: “Kelompok terjelek”.[10] (2/486)
"Saya belum melihat seorang pun yang paling banyak bersaksi palsu dari Syi’ah Rafidhah".[11] (2/486)
Asy-Syafi’i berkata tentang seorang Syi’ah Rafidhah yang ikut berperang:
“Tidak diberi sedikit pun dari harta rampasan perang, karena Allâh Ta'ala menyampaikan ayat fa’i (harta rampasan perang), kemudian menyatakan: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, …”. (Qs. al-Hasyr/59 : 10) maka barang siapa yang tidak menyatakan demikian, tentunya tidak berhak (mendapatkan bagian fa’i).[12] (2/487)

SIKAP IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLÂH
TERHADAP SHUFIYAH (TASHAWWUF)
"Seandainya seorang menjadi sufi (bertasawwuf) di pagi hari, niscaya sebelum datang waktu Zhuhur, engkau tidak dapati ia, kecuali menjadi orang bodoh".[13] (2/503)
"Saya sama sekali tidak mendapatkan seorang sufi berakal, kecuali Muslim al-Khawash".[14] (2/503)
"Asas tasawwuf adalah kemalasan."[15] (2/504)
"Tidaklah seorang sufi menjadi sufi, hingga memiliki empat sifat: malas, suka makan, sering merasa sial, dan banyak berbuat sia-sia".[16] (2/504)

Demikian, sebagian pernyataan dan sikap beliau rahimahullâh, agar diketahui bagaimana seharusnya mengikuti beliau dengan benar. Semoga bermanfaat.

[1] Syarah Muslim 2/666
[2] al Umm 1/277 dengan sedikit perubahan
[3] al Umm 1/278
[4] al I’tiqâd karya Imam al Baihaqiy
[5] Manâqibus Syâfi’i, karya Imam al baihaqiy 1/415
[6] al-Umm 7/61
[7] ar-Risâlah 12-13
[8] Ahkâmul Qur’ân 2/180-181
[9] al Manâqib dan al I’tiqâd 1/420
[10] al Manâqib, karya al Baihaqiy 1/468
[11] Adâbus Syâfi’i, hlm. 187, al Manaqib karya al baihaqiy 1/468 dan Sunan al Kubrâ 10/208
[12] at Thabaqât 2/117
[13] al Manâqib lil Baihaqiy 2/207
[14] al Manâqib lil Baihaqiy 2/207
[15] al Hilyah 9/136-137
[16] Manaqib lil Baihaqiy 2/207

Allah SWT di atas Arsy nya

    Ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah Maha tinggi di atas ‘Arsy-Nya sangat banyak. Di antaranya firman Allah: Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristiwa' di atas ‘Arsy... (al-A'raaf: 54 dan Yunus: 3). Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia beristiwa' di atas ‘Arsy .... (Ar-Ra'd: 2). Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa' di atas Arsy... (al-Furqan: 59). (Yaitu) Ar-Rahman yang beristiwa' di atas ‘Arsy. (Thaha: 5). ..Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-Nya... (Faathir: 10). Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitungan kalian. (as-Sajdah: 5). Dan masih banyak ayat-ayat lainnya yang menunjukkan Maha Tingginya Allah di atas ‘Arsy-Nya.
    Rasulullah SAW kepada seorang budak perempuan kepunyaan Mu’awiyah bin Hakam As Sulamiy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya. “Beliau bertanya kepada budak perempuan itu, ‘Dimanakah Allah?’ Jawab budak perempuan, ‘Di atas langit’ Beliau bertanya lagi, Siapakah aku? Jawab budak perempuan, ‘Engkau adalah Rasulullah’, Beliau bersabda, ‘Merdekakan dia! Karena sesungguhnya dia seorang mu’minah (perempuan yang beriman)’.” (HR. Muslim dan lainnya)
    Rasulullah SAW, “Tidakkah kalian percaya padaku sedangkan aku adalah kepercayaan Yang berada di atas langit. Datang kepadaku wahyu dari langit di waktu pagi dan petang.” (HR. Bukhori-Muslim). Rasulullah SAW juga bersabda, “Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Rahman, sayangilah siapa saja yang ada di bumi niscaya kalian akan disayangi oleh Yang berada di atas langit.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Imam Al-Albani).
    Rasulullah SAW bersabda: “(Artinya) Sesungguhnya Allah, setelah Dia menetapkan takdir bagi segenap makhluk, Dia menulis sebuah catatan di dalam kitab yang berada di sisi-Nya di atas ‘Arsy-Nya (yang berbunyi): ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaanku’”. [Bukhari: 6/2700, Muslim: 4/2108. Lih. Manhaj al-Imam asy-Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah hal. 351].
    ‘Arsy berada di atas langit ke tujuh. Ada banyak ayat yang menjelaskan penciptaan tujuh lapis langit ini. Di antaranya adalah firman Allah (yang artinya): “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat”. [QS. Nuh: 15]. “(Allah) Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.” [QS. Al-Mulk: 3]. Sedangkan keberadaan ‘Arsy di atas tujuh lapis langit, dijelaskan dalam kisah Isra’-Mi’raj yang derajatnya mencapai mutawatir, yaitu diriwayatkan dari banyak jalur yang kesemuanya shahih [lih. Mukhtasar al-‘Uluw hal. 90]. Dalam peristiwa Isra’-Mi’raj, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam naik bersama Jibril ‘alaihissalam menembus langit dunia, terus naik sampai langit ke tujuh dan Sidratul Muntaha. Kemudian beliau menghadap Allah untuk menerima perintah sholat. Dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menceritakan: “(Artinya) Maka aku menemui Tuhanku Yang Maha Suci dan Maha Tinggi sementara Dia berada di atas ‘Arsy-Nya”. [lih. Mukhtasar al-‘Uluw hal. 87] . Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “(Artinya) Sungguh di dalam surga ada 100 tingkatan yang telah disediakan Allah bagi orang-orang yang berjuang di jalan-Nya. Setiap tingkatan jaraknya seperti jarak antara langit dan bumi. Maka jika kalian meminta, mintalah surga Firdaus, karena sesungguhnya ia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi, dan di atasnya ada ‘Arsy ar-Rahman Yang Maha Pemurah, dan darinya bersumber air sungai-sungai di surga.” [Bukhari: 6/2700]
    Dengan banyaknya ayat-ayat yang muhkamat (jelas dan tidak tersamar) tersebut, maka Ahlus Sunnah wal Jama'ah sejak para Shahabat, Tabi'in dan para pengikut mereka dari kalangan ahlul hadits mengimani dengan yakin dan mempersaksikan bahwa Allah tinggi di atas ‘Arsy-Nya. Mereka memahami makna istiwa' dalam bahasa Arab yaitu "Tinggi, di Atas". Hanya saja mereka tetap menyatakan bahwa ketinggian Allah di atas ‘Arsy-Nya tidak sama dengan mahluk-Nya; tidak seperti seorang raja di atas singgasananya dan tidak pula seperti seseorang di atas kendaraannya. Ahlus Sunnah wal Jama'ah menyatakan bahwa tingginya Allah di atas ‘Arsy-Nya sesuai dengan kemuliaan-Nya.
    Dan mereka tidak mempermasalahkan bagaimana dan seperti apa istiwa'nya Allah di atas ‘Arsy-Nya. Karena mereka meyakini bahwa dzat Allah tidak sama dengan mahluk-Nya, maka mereka tidak mungkin menerangkan bagaimana istiwa'nya Allah di atas ‘Arsy-Nya. Apalagi tidak ada satu sumberpun dari al-Qur'an dan as-Sunnah yang menerangkan tentang kaifiyahnya.
    Seperti kisah yang terjadi pada Imam Malik sebagaimana dinukil oleh imam ash-Shabuni dalam kitabnya Aqidatus Salaf wa ashhabul Hadits. Imam Malik ketika didatangi oleh seseorang di majlisnya, kemudian bertanya: "Ar-Rahman ‘alal ‘Arsy istawa, bagaimana istiwa'-Nya?" Beliau tertunduk dan marah. Dan tidaklah beliau pernah marah seperti marahnya ketika mendengarkan pertanyaan tersebut. Beliau pun meneteskan butiran-butiran keringat dari dahinya; sementara para hadirin pun terdiam dan tertunduk, semuanya menunggu apa yang akan terjadi dan apa yang akan dikatakan oleh Imam Malik. Beberapa saat kemudian beliau pun tersadar dan mengangkat kepalanya, seraya berkata: "Tentang bagaimananya tidak bisa diketahui dengan akal, tentang makna istiwa' sudah diketahui; beriman dengannya adalah wajib, dan bertanya tentangnya (tentang kaifiyah) adalah bid'ah. Dan sungguh aku khawatir bahwa engkau adalah orang yang sesat." . Maka orang itupun diperintahkan untuk diusir dari majlisnya. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 45). Demikianlah sikap keras para ulama ahlus sunnah terhadap pertanyaan takyif yang tidak mungkin bisa dipikirkan dengan akal, karena masalah dzat Allah dan sifat-sifat-Nya adalah masalah ghaib yang kita tidak mungkin dapat mengenalinya kecuali melalui al-Qur'an dan sunnah.
    Dan para ulama ahlus sunnah pun tidak ada yang berselisih tentang istiwa'nya Allah di atas ‘Arsy-Nya, dan ‘Arsy-Nya di atas langit. Mereka menetapkan hal ini sesuai dengan apa yang telah Allah tetapkan; mengimani, membenarkan Allah azza wa jalla dalam berita-berita yang telah disampaikan-Nya dan mengucapkan sesuai dengan apa yang telah Allah ucapkan tentang istiwa'Nya di atas ‘ArsyNya. Mereka melangsungkannya atas dhahir (ayat-ayat)nya dan menyerahkan tentang kaifiyahnya kepada Allah. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal.44)
    Berkata Abu Utsman Ismail bin Abdurrahman Ash-Shabuni: “Ashhabul hadits meyakini dan mempersaksikan bahwa Allah di atas tujuh lapis langit, di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana Ia sebutkan dalam kitab-Nya.” (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal.44)
Berkata Abdullah ibnul Mubarak: “Kami mengenali Rabb kami di atas tujuh lapis langit, tinggi di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari mahluk-Nya. Dan kami tidak berkata seperti ucapan Jahmiyah bahwa Dia ada di sini (sambil menunjuk ke bumi).” (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 46-47)
    Berkata Muhammad bin Ishak ibnu Huzaimah: “Barangsiapa yang tidak mengatakan bahwa Allah azza wa jalla di atas ‘Arsy-Nya, tinggi di atas tujuh lapis langit, maka dia kafir kepada Rabb-nya; halal darahnya, diminta taubat kalau mau bertaubat; kalau tidak mau bertaubat, maka dipenggal lehernyaك dibuang jasadnya ke tempat-tempat pembuangan sampah agar tidak mengganggu kaum muslimin dan para mu’ahad dengan busuknya bau bangkai mereka. Hartanya menjadi fa’i (pampasan perang untuk baitul maal). Tidak boleh mewarisinya seorang pun dari kaum muslimin, karena seorang muslim tidak mewarisi dari seorang kafir sebagaimana ucapan Nabi yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid: Orang muslim tidak mewarisi dari orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi dari orang muslim. (HR. Bukhari Muslim) (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 47)
    Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah berdalil atas tidak bolehnya memerdekakan budak yang kafir untuk kaffarah dengan riwayat dari Mu’awiyah bin Hakam, ketika ia ingin memerdekakan budak perempuan hitam sebagai kaffarah. Maka Rasulullah pun mengujinya dengan bertanya kepadanya: “Di mana Allah?” Dia menjawab: “Di langit.” Kemudian beliau bertanya lagi: “Siapa Aku?” Maka budak itu menjawab dengan mengisyaratkan dengan jarinya kepada beliau dan ke langit. Yakni engkau adalah utusan yang di langit. Maka Rasulullah bersabda: Merdekakanlah dia, karena dia adalah seorang mukminah. (HSR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Huzaimah).
    Dengan riwayat ini Rasulullah menyatakan keislaman budak tersebut dengan pernyataannya bahwa Allah Maha Tinggi di atas langit. Dan Imam Syafi’i berdalil dengan hadits ini karena beliau meyakini Allah Maha Tinggi di atas ‘Arsy-Nya, dan bahwasanya seseorang yang mengikrarkan yang demikian adalah seorang mukmin.
    Imam Syafi’i pun meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy-Nya. Beliau mengatakan: “...Sesungguhnya Allah Ta’ala berada di atas ‘Arsy-Nya...” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim di dalam kitabnya Adab As Syafi’i wa Manaqibuh hal. 93). Beliau (Imam Syafi’i) juga berkata: “Kekhalifahan Abu Bakar Ash Shiddiq adalah haq (benar), telah diputuskan oleh Allah dari atas langit-Nya.” [Lih. Manhaj al-Imam asy-Syafi’i fi Itsbatil ‘Aqidah hal. 456]
    Imam Malik, ketika ditanya tentang masalah istiwa (tingginya) Allah Subhanahu wa Ta'ala di atas Arsy-Nya berkata, Istiwa (Allah) sudah sama dipahami, dan bagaimana (hakikat)nya tidak diketahui, sementara mengimaninya adalah wajib, dan bertanya tentang bagaimana (hakikat) Allah ber-istiwa adalah bid'ah". [Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.141]
    Abdullah bin Mubarak berkata, "Kita mengetahui bahwa Tuhan kita berada di atas langit yang tujuh ; ber-istiwa di atas Arsy-Nya ; terpisah dari makhluk-Nya. Kami tidak mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Jahmiyah". [Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.151]
Imam Al-Auza'iy berkata, Kami dan para Tabi'in mengatakan, Sesungguhnya Allah di atas Arsy-Nya dan kami mengimani apa saja yang terdapat di dalam Sunnah". [Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.138]
    Imam Abu Hanifah berkata, "Barangsiapa yang mengatakan, Saya tidak tahu apakah Tuhan saya berada di langit atau bumi, berarti dia telah kafir karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. "Artinya : Allah ber-istiwa di atas arsy-Nya". [Thaha : 5]. Dan arsy-Nya berada diatas langit yang tujuh". [Lihat Mukhtasar Al-Uluw oleh Imam Dzahabi hal.136]
Wallahu a’lam.
Disarikan dari:
1. “ringkasan aqidah dan manhaj imam asy-syafi'I”, edisi terjemah, Al-Ustadz Nurul Mukhlishin Asyrafuddin, Lc., M.Ag
2. “Mukhtasar Al-Uluw”, edisi terjemah”, Imam Dzahabi
3. www.salafy.or.id, dan situs lain.
[...]

Jalan Keselamatan

lurusPenulis: Ustadz Muhammad Irfan
Ibnu Baththah menerangkan sebab bersatunya kalimat salaf : “Terus-menerus generasi pertama umat ini diatas (jalan) ini semua, (yakni) di atas persatuan hati dan kecocokan madzhab. Kitabullah (Al-Qur’an) sebagai penjaga mereka, sunnahnya Rasulullah sebagai imam mereka. Mereka tidak menggunakan pendapat-pendapat mereka dan tidak tergiur dengan hawa nafsu mereka. Maka terus-menerus manusia dalam keadaan demikian, hati-hati mereka terjaga dengan penjagaan Tuhan mereka, dan jiwa-jiwa mereka tertahan dari hawa nafsu dengan pertolongan Tuhannya.” (lihat Kitab Al-Ibanah 1/237).
Ketahuilah, semoga Allah merahmati kita, bahwasanya jalan yang menjamin bagi kita untuk mendapatkan kenikmatan Islam itu hanya satu dan tidak banyak, karena Allah menetapkan kebahagian hanya bagi satu golongan saja. Allah Ta’ala berfirman : “Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al- Mujadilah 22).

Dan Allah juga menetapkan kemenangan itu hanya bagi satu golongan, Allah menyatakan : “Dan barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai walinya, maka sesungguhnya golongan Allah itulah yang pasti menang.” (QS. Al-Maidah 56).
Dan kapanpun kita cari dalam Al-Qur’an serta dalam Al-Hadits, tidak akan kita jumpai memecah belah umat kepada jama’ah-jama’ah dan kelompok-kelompok kecuali pasti di cela (oleh Al-Qur’an dan Al-Hadits tersebut,ed.).
Allah Ta’ala berfirman : “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah–belah agama mereka, dan mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum 31-32).
Dan bagaimana Allah Azza Wa Jalla akan meridhoi umat-Nya untuk berpecah belah setelah Allah menjaganya dangan tali-Nya, dan Allah juga yang melepaskan nabi-Nya dari hal tersebut, dan mengingatkannya (dari bahaya perpecahan tersebut, ed.). Allah Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka berkelompok- kelompok, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah pada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. “(QS. Al-An’am : 159).
Muawwiyah bin Abi Sufyan berkata : Bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berdiri di antara kami lalu menyatakan : “Sesungguhnya ahlul kitab sebelum kalian berpecah (menjadi) dua belas millah (golongan), dan umat ini akan berpecah (menjadi) tiga belas, dua belas di neraka dan satu di surga, yaitu Al-Jama’ah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud).

Berkata Al-‘Amir Ash-Shan’ani rahmatullah : “Penyebutan jumlah pada hadits ini bukanlah untuk menerangkan tentang banyaknya orang-orang yang binasa, hanya saja hal itu menerangkan tentang luasnya jalan-jalan kesesatan dan cabang-cabangnya, serta (menerangkan bahwa) jalan kebenaran itu hanya ada satu. Dan serupa dengan itu adalah apa yang di sebutkan oleh para ulama tafsir dalam firman Allah : “Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan(yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153).
Dan bahwasanya (Allah) menjamak (menggunakan lafadz As-Subul sebagai bentuk jamak / jumlah bilangan yang banyak, ed.) terhadap jalan –jalan yang di larang untuk mengikutinya, faedahnya adalah untuk menerangkan bercabangnya jalan-jalan kesesatan, banyak dan luasnya. Sedangkan Allah menunggalkan (menggunakan lafadz tunggal, ed.) terhadap jalan petunjuk dan kebenaran untuk (menerangkan) bahwa jalan kebenaran itu hanya satu dan tidak berbilang ( yakni tidak banyak dan bercabang-cabang jumlahnya, ed.).”
Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata : “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menggariskan satu garis (di atas tanah) pada kami lalu kami menyatakan : “Ini adalah jalan Allah “, kemudian beliau menggariskan beberapa garis di sebelah kanan dan kirinya, lalu menyatakan : “Ini adalah jalan-jalan ( As-Subul, maknanya beberapa jalan yang banyak, ed.) dan di atas setiap jalan ini ada setan yang mengajak kepadanya”. Lalu beliau membaca (Firman Allah) : “Dan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am : 153).

Hadits dia atas menunjukkan dengan tegas bahwa jalan kebenaran itu hanya satu. Al-Iman Ibnu Qayyim berkata : “…….Karena jalan yang menyampaikan kepada Allah itu hanya satu, apa-apa yang diutus dengannya para Rasul-Nya, serta di turunkan dengannya kitab-kitab-Nya, tidak seorangpun yang sampai kepada Allah kecuali dengan satu jalan ini, Seandainya manusia itu mendatangi setiap jalan dan minta di bukakan pada setiap pintu, maka jalan-jalan mereka di halangi, serta pintu-pintu itu tertutup, kecuali dari satu jalan ini, maka sesungguhnya jalan itulah yang menyampaikan kepada Allah”.

Dari ucapan Ibnu Qayyim di atas jelas bagi kita bahwa yang di maksud dengan jalan itu adalah rukun kedua dari rukun-rukun tauhid setelah syaadat Laa Ilaaha illallah yaitu syahadat wa asyahadu anna Muhammad rasulullah, dan hal itu juga termasuk rukun kedua dari syarat-syarat di terimanya amalan, karena amalan itu tidak akan di terima kecuali dengan dua syarat, yaitu ikhlas dan mengikuti contoh dari Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam.
Setelah jelas bagi kita bahwa jalan kebenaran itu hanya satu, maka tidak boleh bagi kita untuk menyatakan atau beranggapan bahwa jalan menuju Allah itu banyak sekali sejumlah nafas-nafas manusia, atau pertanyaan-pertanyaan yang lain yang sudah diketahui secara jelas dalam agama ini bahwasanya hal tersebut adalah salah. Dan agama ini datang untuk mempersatukan pemeluknya (dalam satu ikatan) dan tidak untuk memecahbelah. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala menyatakan : “Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah, dan janganlah kalian berpecahbelah, serta ingatlah atas ni’mat Allah kepada kalian, ketika kalian (dahulu) bermusuhan, lalu Allah persatukan hati-hati kalian, menjadilah kalian dengan ni’mat Allah tersebut bersaudara.” (QS. Ali-Imran : 103).

Dan yang di maksud dengan hablullah (tali Allah) adalah Kitabullah (Al-Qur’an), sebagaimana dinyatakan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu : “Sesungguhnya jalan ini di hadiri oleh para setan yang menyeru : “Wahai hamba Allah, ayo kesini ! Ini adalah jalan (yang lurus)”, untuk menghalangi mereka dari jalan Allah. Maka berpegang teguhlah dengan tali Allah, karena sesungguhnya tali Allah itu adalah Kitabullah”.

Dari atsar diatas dapat kita anbil dua faedah :
Pertama : Bahwa jalan (yang lurus) itu hanya satu, dan setan berupaya untuk memecah belah manusia di sekitar jalan tersebut. Maka tidak ada cara yang paling baik untuk memecah belah manusia dengan ajaran bahwa jalan kebenaran itu banyak. Maka barang siapa yang melempar keragu-raguan kepada manusia dengan pertanyaan bahwa kebenaran itu tidak terbatas pada satu jalan saja, maka dia adalah setan. Dan Allah menyatakan : “Maka tidak ada setelah kebenaran itu kecuali adalah kesesatan.” (QS. Yunus : 32).
Kedua : Bahwa tali Allah yang di tafsirkan dengan Kitabullah yang wajib atas kaum muslimin untuk berpegang teguh dengannya dan bersatu di atasnya tidak bertentangan dengan ucapan Ibnu Mas’ud : “Shirothol mustaqim adalah apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan kami di atasnya. “(Atsar riwayat Imam At-Thabrani).
Hal tersebut di karenakan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam meninggalkan bagi mereka Al- Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, sebagaimana yang beliau nyatakan : “Aku tinggalkan pada kalian apa-apa yang jika kalian berpegang teguh dengannya niscaya kalian tidak akan sesat setelahku selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan sunnahku.” (HR. Imam Malik dalam Al- Muwatho’).
Dan sunnahnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam itu juga termasuk wahyu, dan juga sebagai tafsir dari Al-Qur’an, bahwa sebaik-baiknya makhluk dan menafsirkan Al-Qur’an adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan : “Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikir untuk menjelaskan kepada manusia apa-apa yang Kami turunkan kepada mereka.” (QS. An-Najm : 3-4).

Rasulullah Shallallahu aliahi wa sallam menyatakan : “Ketahuilah, sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Qur’an dan yang semisalnya bersama Al-Qur’an itu. “ (Shahihul Musnad).
Hasan bin Athiyyah menyatakan : “Sesungguhnya Jibril menurunkan sunnah kepada Muhammad Shollalahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dia menurunkan Al-Qur’an.”
Oleh karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan umatnya jika terjadi perpecahan untuk berpegang dalam sunnah beliau Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyatakan : “Sesungguhnya barang siapa diantara kalian yang hidup sesudahku, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian (untuk berpegang teguh) dengan sunnahku dan sunnahnya khulafaur rasyidin al-mahdiyyin. Berpegang teguhlah kalian dengannya, dan gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham. Dan berhati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yang diada-adakan adalah bi’dah.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Ibnu Baththah menerangkan sebab bersatunya kalimat salaf : “Terus-menerus generasi pertama umat ini diatas (jalan) ini semua, (yakni) di atas persatuan hati dan kecocokan madzhab. Kitabullah (Al-Qur’an) sebagai penjaga mereka, sunnahnya Rasulullah sebagai imam mereka. Mereka tidak menggunakan pendapat-pendapat mereka dan tidak tergiur dengan hawa nafsu mereka. Maka terus-menerus manusia dalam keadaan demikian, hati-hati mereka terjaga dengan penjagaan Tuhan mereka, dan jiwa-jiwa mereka tertahan dari hawa nafsu dengan pertolongan Tuhannya.” (lihat Kitab Al-Ibanah 1/237).
Wallahu a’lam bish shawab
[...]